Fail

Waktu itu saya kelas 11 semester pertama. Pelajaran seninya yaitu seni Tari. hem ketauan mau bahas apa nih. ==' Aaa tidaaaak *tariknafas**hembuskan**tariknafas**hembuskan**tariknafas**hembuskanlewatbelakang*


Okay, kita disuruh mempelajari suatu tarian kreasi baru pilihan kita sendiri yang nanti pada akhirnya mau ditampilin untuk penilaian Semester 1. Kelompok saya mau Tari Lilin. Lucu sih tariannya, humoris gitu lah. Ha ha ketawa garing. Kita dikasih waktu selama sekitar satu bulan buat latihan secara kelompok. Diluar jam sekolah, kita belajar di guru les tari. Tiap hari Senin,pulang sekolah, nebeng temen, ke rumah guru les. Di sana kadang kita latiannya gak eksklusif, ada kelompok lain juga yang latihan. Malah waktu di akhir waktu menjelang penilaian, lima kelompok bisa latihan di suatu tempat yang sama dan waktu yang sama dan dengan guru yang sama. That's really a thing. Waktu itu juga musim hujan, kadang kita kehujanan dikit di jalan, sampe disana atepnya bocor, lantai basah. Betapa sebuah pengorbanan. demi secoret tulisan. dari bolpen guru tari kami di sekolah saat penilaian. Yaah, gak ada background menari apa2 juga. Saya juga pernah browsing video tari lilin tapi yang nari anak2 TK. Tapi tariannya ekstrim beneer. Untung piring mereka udah ditempel di tangan. Untung enggak pake lilin beneran. Untung yang nari anak TK, masih ada unsur imutnya. Ini kenapa bahas ini.
Ya udah hari penilaian tiba. Kita sangat anxious. Mencuri-curi latian dan latian terus sebelum penilaian.

Saatnya kita dinilai. Kita bawa piring kecil / lepek yang beberapa hari yang lalu dengan gusarnya sudah kita beli di tempat-tempat terpisah. Punyaku warna oren, lucu imut2 dan... ngejreng. :3 Oke, 2 menit pertama itu berjalan dengan lancar sesuai rencana................ hingga tiba-tiba saat kita membentuk sebuah formasi yang unyu, saya dengan unyunya menjatuhkan lepek oren ngejreng itu. Suara jatuhnya menggelegar memenuhi ruang hati saya yang dalam dan gelap.


. . .


AAAAAA

Gelinya kita sok cool pretending like nothing just happened.  Padahal dalam hati: Apa itu tadi?! Tidak. Kejadiannya berlangsung sangat cepat! Lalu saya dengan unyunya juga memunguti hati saya yang berserakan  lepek oren itu. Show still went on. Kenapa saya gak minta diulangi aja waktu itu saya juga gak tau ya. lalalala

Yang paling diinget adalah tindakan temen saya, (sebut saja) Yayas yang membimbing saya kaya membimbing ibu2 melahirkan. "Tenang, tenang, tenang" tanpa suara cuma bibir bergerak, dengan gerakan kedua tangan menenangkan dan kepala yang mangguk2 meyakinkan. Mana ekspresinya serius, haha. Akhirnya dengan terseok-seok saya menyelesaikan tarian itu.

Habis itu saya bad mood.

Incredibly, temen2 enggak jahat ngungkit2 hal itu setelahnya. So sweeeet. Padahal mereka kalo gak ada aku ketawa sampe nangis jangan2 wah wah. :p Kecuali yang namanya (sebut saja) Gidion tuh. Wuu. Habis itu, saya agak lega karena habis ini berarti semester 2 gak ada pelajaran yang berhubungan dengan tari yang mengingatkan tentang itu, tapi seni rupa.

Ternyata ada hal yang lebih kontroversial. Saya disuruh ikut kirab budaya HUT kota. nari2 di tengah jalan. Sekali lagi, NARI! Ini hal yang sangat traumatis sebenarnya. Setelah kejadian itu, kalo liat lepek oren yang masih saya simpen emang agak bergidik, sih. Tega sekali. Cobaan apa lagi ini :s Alay. Gak suka juga sama kostum yang saya pake. Untungnya ini kolosal banget, 30an anak. Jadi kalo salah... enggg...haha taulaah dan untungnya gak ada properti untuk dipegang. =='
Tapi dengan wagunya kita juara, padahal itu lebih buruk dibanding latihan kita. Saya apalagi, amburadul waktu itu. Bulu mata yang dari beberapa jam lalu ditempelin saya copot tepat ketika kita mau tampil. Haha gak tahan sih. Mana udah lepas setengah. Haha jelek banget. Amatir? No doubt.


Begitulah kisahnya. Hikmahnya adalah: jangan nari  tertawalah pada kesalahan-kesalahan kita, anggap sebagai pengalaman berharga. jarang kan ada yang bisa melakukan seperti yang saya lakukan. Muahahaha. Ohya, saya udah bilang kalo itu direkam? yes. it was recorded. The-falling-of-orange-thingy tragedy was recorded. Officially recorded with serious handycam and even equipped with tripod. Karena memang gurunya mau mendokumentasi penampilan2 kita semua. Good for me, then.

Jadi, pokoknya kita jangan takut menceritakan kegagalan dan tertawa di atasnya. Dan jangan diulangi! Bikin kesalahan dengan inovasi baru lagi ya!
Sekian.
Semoga bermanfaat. (Apanya ya?)


Kayanya ini post terpanjang yang pernah saya buat. Kasihan yang udah mau-maunya baca dan ternyata gak dapet apa-apa. Wakakak

Comments

Post a Comment

Popular Posts