From "mental breakdown" day to humility

Aku ada weekly meeting sama main supervisor aku yang bidang health data science. I call that day "the mental breakdown" day of the week. Kenapa mental breakdown: karena AKU BANYAK GA NGERTI BELIAU NGOMONGIN APA 😭 bahasa2 programming, stats, belum teknikal projectnya. Saat-saat harus ngerjain litrev, proposal, belajar dari 0 banget sampai disertasi selesai dalam 6 bulanan. Edan juga sih bund apalagi ada bbrp kerjaan sampingan. I thought I had my worst coping mechanism that time.



OK kembali ke prof-ku. Beliau klinisi akademis, dokter subspesialis tp researcher juga, kadang kita meeting bertiga. Jadi, aku lebih deg-degan wkt meeting bertiga karena I look up to him dan gamau keliatan bego aja di depan beliau. Tapi walaupun aku juga tetep sebego kalo ketemu main supervisorku dan hasil progresnya juga sampah,  beliau encouraging dan apresiatif banget.

Misal nanya: “is this your first time using this?” terus aku jawab iya terus beliau merespon “that’s impressive”, “Very well done. How do you feel about this?” sambil ekspresinya beneran antusias gitu loh hahah awal-awal aku bingung hampir speechless, terharu.

Jadi di beberapa kali hari Selasa, saat meeting bertiga, hari itu tidak menjadi hari mental breakdown lagi karena aku lebih bahagia dan termotivasi, seperti ada harapan akan masa depan yg cerah.......



Contoh kejadian lainnya: (mungkin ini receh ya, tapi kalau ingat perbedaan treatment yang biasa aku lihat/alami dulu sih menurut aku ini culture shock hehe)

Waktu itu kita mau meeting di office supervisor utama-ku. Aku sm prof itu dateng bareng. Terus kursinya kurang satu. Kata spv-ku ambil aja kursi dari luar ruangan. Terus pas aku mau melangkah keluar, prof itu ikut ke arah luar terusss beliau yg geret kursi ke dalem buat aku! sambil senyum! dengan gesture ramah mempersilakan gitu aaa

Lalu, aku paling suka kalau beliau kasih feedback. Jadi menurut pengalaman pribadi, secara umum, akademisi di sini memang apresiatif. Walaupun ada yang engga tp oknum haha. Ga yang basa basi juga, kalo pun ada yang perlu dikritik ya mereka juga akan bilang tapi tetap ada bumbu-bumbu apresiasi. Kadang aku ngerasa kerjaanku jelek, asli, tapi mereka adaa aja yang bisa diapresiasi.

Sama beliau kalau mau nanya/ kritik pun, biasanya diawali semacam "maaf kalo aku yg ga begitu ngerti/ kalo aku salah nangkep/ kalo sepengetahuanku gini…. (baru masuk ke inti)” padahal beliau udah prof, dan leading expert di bidangnya yg nyusun guideline untuk jadi acuan praktik terkait bidang itu, tapi kok tetep humble.

Then I just realised that we are humble, not despite our success and knowledge, but because. So, strive for knowledge as it will humble us. I think the true knowledge will let us know who we truly are -- we're just humans.


Comments

Popular Posts